Tampilkan postingan dengan label shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shalat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Maret 2012

Meluruskan Kekeliruan Imam

oleh Al Ustadz `Aunur Rofiq bin Ghufron

Bismillah, Alhamdulillah, Washalatu Wa salamu’ala asyrafil mursalin Wa’ala alihi washohbihi ajma’in ama ba’du.

Meluruskan kekeliruan imam merupakan kewajiban umat Islam yang berilmu. Kekeliruan imam dalam sholat tidak hanya berakibat buruk kepada dirinya saja, tetapi akan mewariskan kesesatan kepada umat. Oleh karena itu wajib bagi kita semua, apabila kita keliru hendaknya bersenang hati untuk kembali kepada yang kebenaran setelah mengetahui dalilnya. Tidak boleh malu di hadapan manusia hanya karena takut disalahkan atau gengsi karena kehilangan wibawa. Malu dihadapan Allah lebih utama daripada malu di hadapan manusia. Semoga Allah memperlihatkan kepada kita yang haq dan memudahkan kita untuk menerima dan mengamalkannya. Dan memperlihatkan kepada kita yang batil dan memudahkan kita untuk menjauhinya.
Sholat merupakan ibadah yang paling pokok setelah seseorang berikrar mengucapkan dua syahadat. Sholat adalah ibadah yang tidak bisa dikurangi atau ditambah, karena Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi contoh langsung kepada sahabatnya. Para sahabat telah melihat sholat beliau setiap hari, dari takbir hingga salam. Bahkan beliau menyuruh umatnya agar mengikuti sholatnya tanpa menambah atau mengurangi.

Meluruskan Kekeliruan Makmum

Oleh Al Ustadz `Aunur Rofiq bin Ghufron

Landasan amal ibadah yang diterima oleh Allah ialah apabila pelakunya muslim, hatinya ikhlas beramal karena Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah. Betapapun ikhlas niatnya karena Allah, tetapi jika amatnya tidak ada tuntunan dari sunnah maka amalnya sia-sia. Sebaliknya, sekalipun amalan itu benar menurut sunnah lagi banyak jumlahnya, tetapi jika hatinya riya’ maka ditolak.

Adapun alasan orang yang mengatakan bahwa amal ibadah tetap diterima selagi tidak ada larangan. Ini adalah kaidahnya orang yang tidak mengerti sunnah sehagaimana yang dilakukan oleh ahli bid’ah. Kaidah ini bertentangan dengan sabda Nabi:
“Barang siapa beramal suatu amalan yang tidak ada petunjuk dari kami, maka amalan itu ditolak”. (HR. Muslim: 1718).
Dan bertentangan pula dengan kaidah yang berhubungan dengan shalat, Nabi bersabda:
“Shalatkah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”. (HR. Bukhari: 631).

Maknanya, shalat tidak menerima tambahan atau pengurangan dengan alasan apapun.

Jumat, 09 Maret 2012

Catetan Jum'at

Laleur Bodas dina jum'atan 9/3/2012 ... kotib ngupas surat at Thahaa [20] ayat 12, anu hartosna "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" anu ringkesna mung Allah nu wajib disembah, teu kenging disekutukan sareng apapun, dan fungsi sholat adalah dizkrullah --- mengingat Allah teras dihubungkeun ka surat Al Kautsaar [108] ayat 1-2 anu hartosna "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah." Janten fungsi shalat selain mengingat Allah oge represenatasi tina rasa bersyukur (syukuran) urang ... kitu saur khotib teh. ... hatur nuhun kang khotib wa samina wa atona abdi mah numut wae

Kamis, 30 September 2010

Meluruskan dan Merapatkan Shaf, Menjalin Persaudaraan Islam

Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata : (artinya) “Bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila hendak takbiratul ihram, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami seraya berkata, ‘Rapatkanlah dan luruskan’  Dalam riwayat lain beliau berkata ‘Luruskan shafmu, karena sesungguhnya meluruskan shaf itu merupakan bagian dari kesempurnaan shalat’ “ (Muttafaq ‘Alaih)   Begitu pentingnya nilai kerapian shaf, hingga terkadang Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam turun langsung ke shaf sahabat dan meluruskan barisan mereka dengan tangan beliau. Al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu Anhu menceritakan (artinya) “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam terkadang merapatkan shaf yang kosong dari satu sisi ke sisi yang lain. Beliau meluruskan dada dan bahu kami seraya berkata ‘Janganlah kalian berselisih, karena hati kalian juga akan berselisih’. Beliau juga bersabda , ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mendoakan shaf-shaf awal.”